Rapat Anggota Tahunan

Bersinergi Membangun Kemandirian

Unit Simpan Pinjam

Maju dan Tumbuh Bersama

Kelompok Usaha Produktif

Sebesar-besarnya manfaat untuk kesejahteraan anggota

Pendidikan dan Pelatihan

Meningkatkan Kualitas dan keterampilan SDM

Program Kemitraan

Kerjasama yang membawa manfaat dan saling menguntungkan

Asuransi pendidikan, penting nggak sih?

Asuransi pendidikan, penting nggak sih?
Antara rasa bahagia dan cemas, pasangan muda Yakub dan Rita menyambut kelahiran buah hati mereka. Mereka masih bingung mengenai bagaimana cara menyiapkan pendanaan agar kelak anak mereka bisa mencapai pendidikan tinggi yang terbaik.

Sebenarnya, baik Yakub maupun Rita sudah berdiskusi dengan sejumlah rekan yang lebih senior mengenai persiapan dana pendidikan anak. Kebanyakan menyarankan untuk memilih asuransi pendidikan berjenis unitlink. Sebab, cara inilah yang kebanyakan ditempuh oleh orang-orang yang mereka kenal. Benarkah cara ini paling tepat?

Sebelum memutuskan tepat atau tidak, mari kita belajar tentang asuransi pendidikan.  Di pasaran, ada dua asuransi pendidikan yang ditawarkan perusahaan asuransi, yakni asuransi tradisional dan unitlink. Melihat skemanya, sebenarnya kedua jenis asuransi ini tidak berbeda dengan asuransi lain yang ada di pasaran.
Kata "pendidikan" hanya embel-embel untuk menegaskan tujuan asuransi ini adalah untuk persiapan dana pendidikan anak. Adapun soal besaran premi dan uang pertanggungan, perusahaan asuransi biasanya menyesuaikan dengan kemampuan membayar si nasabah serta jangka waktu yang diinginkan.

Vice President Director & Chief Agency Officer Manulife Nelly Husnayati mengatakan, produk asuransi pendidikan memiliki manfaat perlindungan jiwa. Jadi, bila nasabah meninggal dunia atau cacat total, dana pendidikan yang sudah direncanakan tetap akan diberikan kepada ahli waris untuk biaya anak. "Ada pula sejumlah manfaat tambahan, seperti penggantian biaya rawat inap di rumahsakit, santunan meninggal atau cacat total akibat kecelakaan dan manfaat pembebasan premi," terang Nelly.

Asuransi pendidikan tradisional sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan tabungan pendidikan di bank. Nasabah secara berkala menyetor premi selama masa kontrak yang disepakati. Kemudian, setiap kali anak masuk ke jenjang pendidikan tertentu, dana akan cair.

Yang agak berbeda unitlink pendidikan. Direktur Pemasaran Jiwasraya De Yong Adrian bilang, asuransi ini memiliki manfaat proteksi lebih luas. "Di tabungan pendidikan ada asuransi tapi yang dijamin hanya sebesar target dana yang akan diperoleh di akhir jika nasabah meninggal," ujarnya. Sementara, dengan unitlink pendidikan, bila tertanggung meninggal, ahli waris tak hanya mendapatkan uang pertanggungan (UP), melainkan juga hasil investasinya.

Dari sisi bunga, Adrian juga menilai, bunga yang ditawarkan tabungan pendidikan tidak terlalu besar. Bunga kotor hanya 3%–6% per tahun. Sementara, dengan unitlink, imbal hasil lebih fleksibel, mengikuti nilai investasi yang dipilih. Misalnya, dengan memilih ekuitas, Nelly mengasumsikan Manulife StudyLink bisa memberi imbal hasil 14% per tahun.

Seperti tabungan atau asuransi tradisional, nasabah bisa mencairkan dana di unitlink secara bertahap, sesuai kebutuhannya. Ambil contoh Manulife StudyLink tadi. Nelly bilang, dengan membayar premi Rp 5 juta per tahun sejak anak berusia 1 tahun, maka saat anak masuk TK di usia 5 tahun, ia akan mendapatkan hingga
Rp 3,7 juta, lalu dana hingga Rp 19 juta saat anak berusia 11 tahun, dan Rp 31 juta pada saat anak masuk SMA di umur 14 tahun.

Sementara, saat anak berusia 17 tahun–22 tahun atau kuliah, dana pendidikan yang diterima total sampai Rp 64 juta. Harap ingat, ya, ini hanya sebuah ilustrasi. Hasil sebenarnya sangat tergantung dengan imbal hasil riil di lapangan. Meski memiliki dua opsi produk, biasanya perusahaan asuransi lebih mengarahkan nasabah ke produk unitlink.

Ini terlihat dari simulasi yang mereka sodorkan ke nasabah. Dari simulasi asuransi pendidikan Jiwasraya, misalnya, Anda akan melihat beberapa perbedaan mencolok antara asuransi tradisional dan unitlink . Di sini, premi asuransi tradisional lebih mahal, masa pembayaran premi lebih lama, namun manfaat atau UP lebih kecil ketimbang asuransi pendidikan unitlink.

Di luar itu, ada satu hal yang mesti Anda perhatikan ketika mengambil asuransi pendidikan. Karena pembayaran premi asuransi pendidikan ini memerlukan waktu lama, Anda perlu disiplin membayar premi. "Kalau lalai membayar dalam beberapa kali periode pembayaran, dimungkinkan polis akan dinyatakan batal atau lapse dan otomatis pertanggungannya menjadi batal," ujar Adrian. Kelalaian ini bisa membuat klaim asuransi Anda ditolak.

Cermat berhitung

Perencana keuangan MoneynLove Financial Consulting Freddy Pieloor mengingatkan, jika nasabah memutuskan untuk mengambil asuransi pendidikan sebagai instrumen dana pendidikan, ada baiknya ia telah memahami benar skema produk yang ditawarkan. "Sebetulnya ada pilihan lain yang lebih baik, yaitu membeli reksadana secara langsung," ujar Freddy. Namun, bila Anda termasuk golongan orang yang tidak mau repot, Anda dapat memanfaatkan asuransi pendidikan.

Untuk tujuan pendidikan jangka waktu pendek, misal sekitar 5 tahun, Freddy menyarankan untuk menggunakan asuransi pendidikan konvensional saja. "Karena perhitungan uang pertanggungannya sudah pasti," kata dia. Sementara, untuk jangka waktu panjang, asuransi pendidikan jenis unitlink bisa jadi opsi.
Agar imbal hasil lebih maksimal.

Freddy menyarankan agar memilih asuransi pendidikan unitlink dengan pilihan instrumen investasi di saham. Memang dana yang terbentuk akan fluktuatif, tapi dalam jangka panjang, imbal hasil mungkin lebih baik. Anda sebaiknya juga membuat rancangan biaya pendidikan beserta perhitungan inflasi atau perkiraan kenaikan harga pendidikan pada saat anak Anda akan memasuki jenjang pendidikan tersebut. Dengan demikian, Anda tidak hanya tergiur dengan nilai UP yang dicantumkan dalam simulasi. Sebab, bisa jadi, angka itu sudah sangat tidak memadai ketika buah hati Anda masuk ke jenjang pendidikan mendatang.

Pastikan pula Anda memahami biaya-biaya yang harus Anda bayar selama masa pembayaran premi. Jangan sampai Anda merasa kecele lantaran tidak memperhitungkan biaya administrasi atau biaya bulanan yang ternyata dibebankan tiap kali Anda membayar premi. Masih tertarik membeli asuransi pendidikan?
(Sumber : Koran Kontan)

Sebuah Impian Tentang Koperasi


Setiap 12 Juli adalah hari yang penuh arti bagi gerakan koperasi di Indonesia. Sebab pada hari itu masyarakat koperasi Indonesia memperingati hari jadi Koperasi yang lahir pada tanggal 12 Juli 1947 di kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Tak terkecuali pada tahun 2014 ini, masyarakat gerakan koperasi Indonesia kembali memperingati hari “keramat” itu. Walau mungkin peringatannya tidak semeriah pada tahun-tahun sebelumnya karena jatuh  pada bulan puasa, tapi masyarakat gerakan koperasi akan selalu memaknai dan menandai bahwa mereka merasa punya wadah usaha yang bernama koperasi.

Wacana yang muncul ke permukaan, bahwa koperasi Indonesia masih jauh tertinggal masih terus bergulir. Padahal kalau dilihat dari usia, pada usia 69 tahun (1945-2014) semestinya kita sudah punya koperasi yang berprestasi dan besar. Dalam peta perekonomian nasional kontribusi koperasi Indonesia dalam produk domestic bruto (PDB) masih kurang dari lima persen. Sementara untuk tataran dunia, koperasi kita juga masih jauh tertinggal yang tidak bisa dicatatkan atau dimasukan ke deretan koperasi dunia.

Berdasarkan kreteria yang ditetapkan International Cooperative Alliance (ICA) untuk masuk ke koperasi dunia minimal harus punya omset dari US$ 1,25 milyar (sekitar Rp 12 trilyun) hingga US$ 70,70 milyar (sekitar Rp 67 trilyun). Sedangkan omset koperasi kita yang terbesar baru mencapai Rp 7,77 trilyun pertahun.

Dalam kondisi demikian, mungkinkah koperasi Indonesia akan menembus koperasi besar dunia? Memang kata banyak orang, hidup harus punya mimpi. Sebuah impian berfungsi untuk mewadahi tujuan kehidupan.

Juga ada kata pepatah, “Tidak Ada Kata Terlambat” mungkin pepatah itu juga bisa diterapkan dalam “menghibur” masyarakat koperasi Indonesia. Untuk menjadi besar dan masuk koperasi dunia, tentu tidak mengenal istilah terlambat.

Kita memang harus introspeksi. Buat apa kita punya Kementerian Koperasi? Buat apa kita punya UU Koperasi yang selalu diperbaiki. Buat apa kita punya organisasi gerakan Koperasi yang namanya Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Terkecuali kita lagi-lagi tejerebab dengan istilah yang terus populer “itulah Indonesia” sebuah Negara besar, tetapi sulit mencetak prestasi besar. Yang selalu hidup penuh mimpi atau hidup dalam impian. Termasuk untuk koperasi. (Dirangkum dari beberapa sumber) Dok. Sudibyo

Awas, jangan sok kaya!

Awas, jangan sok kaya!
Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Itu guyonan lama yang masih relevan hingga kini. Siapa, coba, yang tak kepingin hidup (dan mati) senikmat itu?

Menjadi kaya boleh jadi merupakan mimpi standar orang dewasa. Bayangkan tinggal di rumah berlantai marmer impor dari Italia, berendam di bath tub seharga ratusan juta perak, naik limosin Hummer keliling kota, serta mendapat pelayanan ekstra istimewa dari bank ala Malinda Dee, jelas begitu menggoda. Siapa yang berani menampik anugerah hidup seperti itu?

Sayang sekali, menjadi kaya bukan garis hidup otomatis bagi semua orang. Kebanyakan dari kita harus berjuang ekstra keras agar menjadi kaya. Namun tak semua orang bisa tekun, sabar, dan gigih mengejar mimpi menjadi kaya.

Mungkin karena itu pula, banyak orang tergoda untuk kaya secara instan€. Kalau tak menghimpun uang haram sebagai modal menumpuk harta, mereka mengandalkan utang sebagai senjata memupuk kekayaan. Bagi mereka kaya adalah harta. Semakin banyak harta yang mereka kuasai, semakin mereka merasa kaya.
Benarkah cara pandang seperti itu? Kalau Anda bertanya kepada para perencana keuangan, tentu mereka akan menjawab kompak: tidak!

Di dunia keuangan berlaku sebuah rumus ampuh: Harta = Utang + Modal. Banyak orang mengira bahwa status kaya identik dengan Harta sehingga mereka memupuk harta, apa pun caranya. Itu adalah anggapan salah. Status bukan berada di sisi Harta, melainkan pada sisi Modal.

Meski menghuni townhouse berharga miliaran dan mengendarai sedan cabriolet saban sore, Anda bukan orang kaya apabila membiayai semua itu dengan utang. Sebaliknya, Anda berhak mengklaim sebagi orang kaya walau cuma mengendarai bebek matik, selama semua harta Anda beli dengan uang sendiri.

Kesalahan mengidentifikasi status diri sendiri ini bisa berakibat fatal. Orang yang €œkaya dari utang bisa melarat tiba-tiba ketika gagal membayar angsuran. Jadi, apakah Anda termasuk golongan orang yang kaya modal atau kaya utang? (Sumber : Koran Kontan)

Rencanakan sejak dini agar sejahtera di hari tua

Rencanakan sejak dini agar sejahtera di hari tua
Usai puluhan tahun bekerja banting tulang mencari uang, seseorang yang memasuki masa pensiun tentu ingin menikmati hidupnya dengan tenang. Selain selalu menjaga hubungan baik dengan anak dan cucu, ketenangan hati juga bisa dirasakan jika tak ada kendala dalam pemenuhan kebutuhan finansial. Maklum, sumber keuangan sudah mampet.

Jika anak dan sanak keluarga masih bisa diandalkan untuk menopang hidup Anda, mungkin, masalah bisa teratasi. Namun, tentu, akan lebih membahagiakan jika Anda tetap bisa mandiri secara finansial dan tak memberatkan siapa pun, termasuk anak Anda. Kalau bisa, Anda justru memberikan kelebihan dari apa yang sudah ditanam selama masih produktif bekerja bagi anak dan cucu.

Oleh karena itu, memikirkan pendanaan pensiun sangat penting. Para perencana keuangan pun kompak bilang, semakin cepat Anda mengalokasikan dana pensiun, besaran cicilan dana pensiun semakin kecil, tapi potensi dana yang terkumpul semakin besar. “Belum lagi soal compounding return (akumulasi keuntungan) yang didapat pasti makin besar,” ujar perencana keuangan dari Fahima Advisory Fauziah Arsiyanti, yang akrab disapa Zizi.

Jadi, sebaiknya, begitu Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan, saat itu, Anda mulai merencanakan pembentukan dana pensiun. Sebagai contoh, Anda harus menyisihkan dana Rp 3,63 juta per bulan jika ingin pensiun di usia 55 tahun. Tapi, jika usia Anda sekarang masih 27 tahun, Anda cukup menyisihkan Rp 1,3 juta.
Perencana keuangan dari AFC Financial Check Up Budi Triadi Pratama menyarankan, sebaiknya seseorang juga tak bergantung pada dana pensiun yang dikelola oleh instansi atau perusahaan tempatnya bekerja. Alasannya, rata-rata dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) di instansi pemerintah maupun swasta hanya ditempatkan pada ladang investasi yang konservatif dengan return yang tidak besar.

Bisa pilih instrumen yang lebih agresif

Padahal, investasi dana pensiun bisa memakan waktu hingga puluhan tahun. “Return kecil atau tetap dari investasi yang dipilih itu, mungkin, tidak akan menutup inflasi,” tandas Budi. Karena itu, dia menyarankan agar seseorang mengalokasikan sendiri dana pensiunnya di keranjang investasi yang bersifat lebih agresif dengan potensi return lebih besar. Di sisi lain, risiko investasi menjadi hal yang tak perlu dirisaukan karena rentang investasi yang panjang mampu menjembatani risiko tersebut.

Perencana keuangan dari MoneynLove Financial Planning & Consulting Freddy Pieloor berpendapat sama. “Dana pensiun dari kantor dianggap sebagai bonus saja,” tuturnya. Saking pentingnya mengalokasikan dana pensiun pribadi, sejak dini pun, semestinya, setiap orang membentuk pola pikir bahwa alokasi dana pensiun adalah kebutuhan yang sengaja disisihkan dan bukan disisakan dari pendapatan yang diterima.

Harapannya, dana yang disisihkan tersebut bisa menjadi pos pendapatan pengganti seperti yang biasa diterima semasa bekerja. Dana ini bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagai dana kesehatan. Maklum, asuransi kesehatan kadang membatasi usia klaim, yakni rata-rata hanya sampai usia 55 tahun.

Di luar memenuhi kebutuhan sehari-hari, Budi menambahkan, dana pensiun bahkan bisa dirancang untuk pendanaan pelesir di hari tua. “Misalnya, ingin menikmati masa tua dengan keliling Eropa,” katanya.
Nilai yang mesti disisihkan untuk pembentukan dana pensiuan, menurut para perencana keuangan, sangat relatif. Banyak faktor mempengaruhinya, seperti gaji saat ini, ekspektasi penghasilan dan gaya hidup saat pensiun kelak, karakter investasi Anda, serta lama melakukan penyisihan dana.

Budi memberikan gambaran perhitungan alokasi dananya. Dengan gaji Rp 5 juta saat ini dan berkeinginan menikmati uang dengan nilai yang setara saat pensiun kelak, Anda harus menyisihkan dana Rp 1,3 juta per bulan dan diinvestasikan pada instrumen yang bisa menghasilkan return sekitar 25% per tahun. Sebab, Rp 5 juta saat ini, dengan tingkat inflasi rata-rata 12% per tahun, bakal setara Rp 119,42 juta pada 28 tahun mendatang.

Freddy berpendapat, agar aman, seseorang bisa menyisihkan uang untuk dana pensiun dengan persentase minimal dua kali inflasi saat ini. Jadi, jika inflasi year on year (yoy) Januari kemarin 3,65%, dana yang Anda harus sisihkan adalah 7,3% dari total pendapatan. Jika bermaksud mengalokasikan dana pensiun untuk diri sendiri dan pasangan, besarannya dikalikan dua lagi atau menjadi 14,6%.

Saran Zizi, sebaiknya kantong dana pensiun suami dan istri dipisahkan. Ini untuk mengantisipasi hal-hal tak baik yang mungkin terjadi, misalnya perceraian. Nah, berikut beberapa alat investasi yang bisa dimanfaatkan untuk membentuk dana pensiun Anda.

Reksadana saham

Setidaknya ada dua keuntungan yang bisa didapat dari investasi reksadana saham, yakni potensi return dari pergerakan harga saham dan kemudahan berinvestasi.
Berbeda dengan saham yang memerlukan penanganan lebih jeli, melalui reksadana, investasi Anda akan diracik oleh manajer investasi (MI). Potensi return pun cukup besar, bisa sampai 30% per tahun. Tapi, memang ada risiko nilai investasi bisa turun lantaran fluktuasi harga saham yang menjadi portofolionya.
Untuk investor berkarakter moderat, reksadana campuran bisa menjadi pilihan. Alasannya, risiko investasinya lebih kecil.

Saham

Selain menikmati kenaikan harga saham, investor bisa menikmati pembagian laba bersih perusahaan atau dividen. Namun, butuh analisis cermat agar tak salah pilih saham. Budi mengatakan, untuk memudahkan pemilihan saham, Anda bisa memilih saham-saham dengan kinerja fundamental bagus, seperti saham-saham perusahaan besar atau blue chips.

Namun, imbuh Freddy, harga saham blue chip, biasanya, mahal. Jadi, dia menyarankan agar membeli saham lapis kedua yang berpotensi memiliki pertumbuhan bagus untuk jangka panjang.
Mengenai pemilihan sektor nya, para perencana keuangan menyarankan Anda untuk melakukan diversifikasi. “Karena untuk dana pensiun, sebaiknya saham disimpan saja dan bukan untuk trading,” kata Freddy.

Obligasi

Surat utang (obligasi) jangka panjang di atas 15 tahun juga bisa menjadi pilihan. Sama seperti saham, sebaiknya, Anda menyimpan obligasi untuk jangka panjang, bahkan hingga jatuh tempo. Dari investasi obligasi, Anda bisa menikmati pembagian kupon atau bunga dan kenaikan harga. Untuk menekan risiko, para perencana keuangan lebih menyarankan Anda memilih obligasi pemerintah ketimbang korporasi.

Properti

Properti bisa menjadi sumber dana pensiun. Namun, menjual properti adalah pilihan paling akhir. Selain harganya tak murah, menjual properti juga tak gampang. Jadi, lebih baik menyewakan properti Anda untuk mendapatkan passive income.

Pemilihan jenis dan lokasi properti menjadi faktor krusial karena akan menentukan tingkat kenaikan harga dan permintaan sewa. Nah, selamat merencanakan masa tua yang sejahtera! (Sumber : Koran Kontan)

Company Profile



Jaya Kerta Sejahtera adalah sebuah badan usaha berbentuk koperasi berskala nasional yang berdiri sejak 16 Nopember 2007, dipelopori oleh para pengusaha besar, menengah yang berdomisili di  wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, dan telah memiliki divisi-divisi usaha ;

-         Divisi Perdagangan Umum & Suplayer
-         Divisi Pelayanan Jasa
-         Divisi Pendidikan dan Pelatihan

yang akan datang dalam waktu dekat juga akan dikembangkan bidang-bidang usaha ;

-         Divisi Pelayanan Kesehatan
-         Divisi Konstruksi & Properti
-         Divisi Telekomunikasi dan Informatika
-         Divisi Pengembangan dan Penerapan Teknologi

Dikelola secara profesional untuk membantu meningkatan kerjasama usaha baik antara pengusaha besar, pengusaha menengah dan kecil dalam membangun bangsa dan negara melalui tatanan ekonomi demi terciptanya kesejahteraan bersama.

  
Visi

Menjadi Badan Usaha Koperasi yang Profesional, Sehat, Dinamis didalam membangun Ekonomi Kerakyatan dan Kesejahteraan Sosial.

Misi
               
Memberdayakan dan Mengembangkan Potensi Usaha Anggota melalui Pembinaan Manajemen Sumber Daya Manusia dan Pendidikan Kewirausahaan menuju Masyarakat Ekonomi yang Kokoh dan Mandiri.

Tujuan

Tujuan dibentuknya koperasi ini adalah ;
1)        Meningkatkan kesejahteraan anggota.
2)        Memberdayakan dan mengembangkan ekonomi anggota dengan mendukung usaha-usaha yang dimiliki oleh anggota.
3)        Mendidik anggota dalam berekonomi dan pengembangannya.

Sasaran

Sasarannya adalah ;
1)     Terwujudnya kesejahteraan, kemandirian, pribadi yang tangguh, dan kokoh sehingga mampu mendukung sepenuhnya program-program pemerintah.
2)     Terwujudnya sarana usaha yang mampu mengelola dan mengembangkan investasi serta menyediakan lapangan kerja bagi anggota.
Menyediakan sarana investasi yang sesuai dengan mengedepankan prinsip kebersamaan, tolong-menolong, toleransi dan transparansi.

Peresmian Unit Simpan Pinjam



Unit Simpan Pinjam (USP) SWAMITRA Koperasi Jaya Kerta Sejahtera kini telah hadir dan resmi beroperasi sebagai salah satu unit usaha dari Divisi Pelayanan Jasa. Acara peresmian dilaksanakan pada Kamis, 27 Nopember 2008 yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Tangerang Bapak Drs. HM. Machdiar, MSi, Bapak Alam Nugraha (Ketua DEKOPINDA Kabupaten Tangerang), Bapak Donny Hermawan (Pengendali Operasi SWAMITRA Jabodetabek - PT. Bank BUKOPIN), menjadi sangat istimewa karena diikuti oleh pembukaan rekening tabungan secara simbolis oleh Bapak Machdiar, Bapak Mujiono (Ketua II Koperasi JKS), dan Bapak Hidayat (Tokoh Masayarakat) serta seluruh hadirin termasuk perwakilan dari 65 Kelompok Usaha Produktif (KUP)Koperasi Jaya Kerta Sejahtera.

Bapak Sudibyo, SE, MM (Ketua I Koperasi JKS) dalam sambutannya mengatakan bersyukur kepada Allah SWT dengan diwujudkannya kehadiran USP SWAMITRA JKS, karena ini adalah amanah dari RAT ditahun pertama pengembangan unit usaha koperasi yang diharapkan akan mampu memjadi sarana bagi anggota untuk meningkatkan produktifitas kegiatan usaha. Juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Machdiar dan Bapak Alam Nugraha yang senantiasa membimbing Koperasi Jaya Kerta Sejahtera menuju koperasi yang mandiri dan profesional.

Dalam sambutannya Bapak Machdiar menyampaikan bahwa dengan telah dibentuknya Kota Tangerang Selatan, maka Koperasi Jaya Kerta Sejahtera selanjutnya akan berada di bawah binaan Dinas Koperasi Kota Tangerang Selatan, dan menyampaikan terima kasih kepada PT Bank Bukopin yang telah bermitra dengan koperasi-koperasi dalam mengembangkan unit simpan pinjam SWAMITRA khususnya yang berada di wilayah Tangerang. Bahwa sudah ada 10 unit SWAMITRA di wilayah Tangerang termasuk di dalamnya USP SWAMITRA JKS. Koperasi harus menjadi motor gerakan ekonomi masyarakat yang didalamnya terkandung nilai-nilai kebersamaan yang universal yakni toleransi, tolong-menolong, musyawarah, dan keadilan. Koperasi juga menganut nilai-nilai dasar syariah karena di dalamnya tidak mengenal adanya pemegang saham mayoritas seperti diperseroan tetapi mempunyai prinsip bagi hasil dalam perhitungan sisa hasil usahanya. Sebagai wujud dukungan Bapak Machdiar juga meminta kepada seluruh jajaran Koperasi Jaya Kerta Sejahtera agar beliau dapat dimasukkan sebagai pendiri Koperasi JKS dengan penyertaan modal sebesar 5 juta rupiah yang disambut meriah oleh para hadirin yang hadir.

Sementara Bapak Donny Hermawan yang mewakili PT Bank Bukopin mengatakan tentang komitmen perusahaan yang akan terus mendukung gerakan koperasi di Indonesia melalui USP SWAMITRA dan meningkatkan kualitas layanan kepada para nasabah, sebagaimana keputusan manajemen Bank Bukopin yang mentargetkan untuk menjadikan 2000 unit di seluruh Indonesia dari sekitar 650 unit SWAMITRA yang telah ada saat ini dengan modal berputar senilai 800 miliar rupiah. Sementara di Jabodetabek saat ini sudah ada 85 unit termasuk SWAMITRA JKS ini, yang menurutnya memiliki kantor yang unik dan representatif sebagaimana tampilannya mirip profesional perbankan.