Rapat Anggota Tahunan

Bersinergi Membangun Kemandirian

Unit Simpan Pinjam

Maju dan Tumbuh Bersama

Kelompok Usaha Produktif

Sebesar-besarnya manfaat untuk kesejahteraan anggota

Pendidikan dan Pelatihan

Meningkatkan Kualitas dan keterampilan SDM

Program Kemitraan

Kerjasama yang membawa manfaat dan saling menguntungkan

Menghitung peluang laba kursus berhitung

Menghitung peluang laba kursus berhitung
Setiap orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Makanya, banyak orang tua rela merogoh kocek dalam-dalam demi pendidikan buah hatinya. Fenomena ini tentu mendatangkan berkah bagi pelaku usaha di sektor pendidikan. Bahkan, banyak pemain asing turut meramaikan bisnis ini dengan menawarkan waralaba atau kemitraan.

Salah satunya adalah Eye Level, lembaga pendidikan asal Korea yang berdiri sejak 1976 di bawah bendera Daekyo. Eye Level sendri baru masuk Indonesia pada 2007 di bawah naungan PT Daekyo Indonesia.
Ade Trianto, Marketing Franchise PT Daekyo Indonesia, bilang, Eye Level sudah merambah 17 negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Asia, dan Eropa. Di Indonesia, total gerainya sudah ada 60. Rinciannya, milik mitra 45 dan sisanya milik sendiri. Menurut Ade, Eye Level fokus memberikan kursus matematika dan bahasa Inggris.

Lembaga kursus ini menampung siswa mulai usia taman kanak sampai sekolah menengah pertama (SMP). Ade mengklaim, kelebihan Eye Level memiliki metode pengajaran basic thinking dan critical thinking. Dengan metode ini, anak dituntut untuk paham sesuai kemampuannya dan bukan menghafal pelajaran.
Kurikulum pengajarannya juga mengadopsi kurikulum dari Amerika Serikat.

Investasi Rp 150 juta

Dalam kemitraan ini, mitra menyiapkan biaya investasi Rp 150 juta. Dengan rincian, biaya lisensi Rp 40 juta dan deposito Rp 35 juta. Sisanya buat training guru, buku modul matematika dan bahasa Inggris semua level, perlengkapan, dan training.

Kerjasama ini tidak memiliki jangka waktu, sehingga mitra tak perlu perpanjang kontrak. Bila tidak meneruskan kerjasama, Eye Level mengembalikan deposito Rp 35 juta yang disetor di awal kerjasama.
Biaya royalti tetap ada setiap bulannya, tapi bukan diambil dari omzet per bulan. Ade bilang biaya royalti sudah dipungut dari iuran anak sebesar 40%. Iuran siswa sendiri dipatok Rp 400.000 per siswa per bulan untuk matematika, dan Rp 430.000 per bulan untuk bahasa Inggris.

Jika satu anak bayar Rp 400.000, maka Rp 160.000 masuk pusat. Mitra harus menyiapkan lahan 90 meter persegi. Ruko itu bisa menampung tujuh kelas. Bila satu kelas menampung 20 siswa, maka total siswa 150 orang per bulan.

Dengan siswa sebanyak itu, mitra bisa mendapat omzet rata-rata Rp 60 juta. Dengan laba 25%–30%, bisa balik modal dalam dua tahun. Khoerusalim Ikhsan, konsultan waralaba dari Entrepreneur College menilai, kursus matematika dan bahasa Inggris masih banyak peminatnya.

Soalnya, banyak siswa mengalami kesulitan di dua mata pelajaran itu. Menurutnya, bisnis ini memerlukan lokasi yang strategis. "Sebisa mungkin harus di dekat area sekolah," ujarnya. Investasi sebesar Rp 150 juta masih wajar.   

PT Daekyo Indonesia
Jalan Jendral Gatot Subroto Kav. 27, Setiabudi
Jakarta Selatan
Telp. 021-52920911
Sumber : Koran Kontan

Segar untung bisnis Sop Durian Lodaya

Segar untung bisnis sop durian
Buah durian atau duren memiliki cukup banyak penggemar di Indonesia. Buah tropis ini tidak hanya nikmat disantap langsung setelah dibelah, namun bisa juga diolah, salah satunya menjadi sop duren. Salah satu brand usaha yang menawarkan menu sop duren sebagai produk utamanya adalah Sop Duren Lodaya. Lewat bendera PT Lodaya Makmur Perkasa, Sop Duren Lodaya beroperasi sejak tahun 2012 di Bogor, Jawa Barat. Agar usaha ini cepat berkembang, sejak awal September 2014, Lodaya mulai menawarkan paket kemitraan usaha.

Noer Wasiti Deswantari, Manager of Business Strategic PT Lodaya Makmur Perkasa, mengatakan saat ini sudah ada tiga mitra yang sudah bergabung yang berlokasi di Cibubur, Cimahi dan Sukabumi. Sementara, cabang milik pusat sudah ada lima yang berlokasi di Bogor, Depok, Bekasi, Jakarta, dan Yogyakarta. "Ketiga mitra ini akan memulai usaha di akhir tahun ini," kata dia.

Jika tertarik bergabung, Sop Duren Lodaya menawarkan dua jenis investasi yaitu Lodaya Express dengan nilai investasi Rp 100 juta dan paket Lodaya Resto seharga Rp 800 juta. Pada paket pertama, mitra akan mendapatkan fasilitas booth, peralatan usaha lengkap, tempat simpan topping, banner promosi, cup, frezeer dan bahan baku awal sebanyak 200 porsi.

Tidak ada royalti

Perbedaan fasilitas pada paket kedua adalah selain mendapatkan semua peralatan usaha lengkap, mitra juga mendapatkan renovasi tempat, meja dan kursi dan juga mendapat bahan baku awal. Jangka waktu kerjasama usaha berlangsung selama lima tahun.

Pusat tidak mengutip biaya royalti, namun mitra wajib membeli bahan baku utama yakni duren olahan dari pusat. "Ini untuk menjaga kualitas produk karena kami menggunakan durian dari Sumatra," ujar Noer. Sop Duren Lodaya menawarkan sembilan varian produk. Olahan bubur duren di sajikan dengan batu es dan aneka taburan yang bisa dipilih seperti ketan hitam, aneka buah atau cendol. Harga jual mulai dari Rp 15.000-Rp 30.000 per porsi.

Pusat menargetkan mitra bisa menjual 150 porsi sehari. Jika tercapai, estimasi omzet yang didapatkan sekitar Rp 2,25 juta per hari atau sekitar Rp 67,5 juta dalam satu bulan. "Target balik modal sekitar lima bulan," katanya  Jumlah karyawan Lodaya Express cukup dua orang, untuk paket resto membutuhkan sekitar 10 karyawan. Syarat luas tempat usaha sekitar 50  meter persegi (m²) untuk paket express dan  minimal 100 m² untuk paket resto. Lokasi usaha disarankan di wilayah perumahan, perkantoran, ruko, atau lingkungan sekolah. 

Amir Karamoy, pengamat waralaba mengatakan, penawaran ini menarik dan prospeknya cukup bagus. Agar bisa terus berkembang,  pengusaha harus mampu bersaing dengan banyak pelaku usaha sejenis yang sudah ada.

PT Lodaya Makmur Perkasa      
Jln. Yudhistira Raya No. 5, Tegal Gundil, Bogor.
Telp. 0251-8351557
Email: SopDurianLodaya@gmail.com
Sumber : Koran Kontan

Asuransi pendidikan, penting nggak sih?

Asuransi pendidikan, penting nggak sih?
Antara rasa bahagia dan cemas, pasangan muda Yakub dan Rita menyambut kelahiran buah hati mereka. Mereka masih bingung mengenai bagaimana cara menyiapkan pendanaan agar kelak anak mereka bisa mencapai pendidikan tinggi yang terbaik.

Sebenarnya, baik Yakub maupun Rita sudah berdiskusi dengan sejumlah rekan yang lebih senior mengenai persiapan dana pendidikan anak. Kebanyakan menyarankan untuk memilih asuransi pendidikan berjenis unitlink. Sebab, cara inilah yang kebanyakan ditempuh oleh orang-orang yang mereka kenal. Benarkah cara ini paling tepat?

Sebelum memutuskan tepat atau tidak, mari kita belajar tentang asuransi pendidikan.  Di pasaran, ada dua asuransi pendidikan yang ditawarkan perusahaan asuransi, yakni asuransi tradisional dan unitlink. Melihat skemanya, sebenarnya kedua jenis asuransi ini tidak berbeda dengan asuransi lain yang ada di pasaran.
Kata "pendidikan" hanya embel-embel untuk menegaskan tujuan asuransi ini adalah untuk persiapan dana pendidikan anak. Adapun soal besaran premi dan uang pertanggungan, perusahaan asuransi biasanya menyesuaikan dengan kemampuan membayar si nasabah serta jangka waktu yang diinginkan.

Vice President Director & Chief Agency Officer Manulife Nelly Husnayati mengatakan, produk asuransi pendidikan memiliki manfaat perlindungan jiwa. Jadi, bila nasabah meninggal dunia atau cacat total, dana pendidikan yang sudah direncanakan tetap akan diberikan kepada ahli waris untuk biaya anak. "Ada pula sejumlah manfaat tambahan, seperti penggantian biaya rawat inap di rumahsakit, santunan meninggal atau cacat total akibat kecelakaan dan manfaat pembebasan premi," terang Nelly.

Asuransi pendidikan tradisional sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan tabungan pendidikan di bank. Nasabah secara berkala menyetor premi selama masa kontrak yang disepakati. Kemudian, setiap kali anak masuk ke jenjang pendidikan tertentu, dana akan cair.

Yang agak berbeda unitlink pendidikan. Direktur Pemasaran Jiwasraya De Yong Adrian bilang, asuransi ini memiliki manfaat proteksi lebih luas. "Di tabungan pendidikan ada asuransi tapi yang dijamin hanya sebesar target dana yang akan diperoleh di akhir jika nasabah meninggal," ujarnya. Sementara, dengan unitlink pendidikan, bila tertanggung meninggal, ahli waris tak hanya mendapatkan uang pertanggungan (UP), melainkan juga hasil investasinya.

Dari sisi bunga, Adrian juga menilai, bunga yang ditawarkan tabungan pendidikan tidak terlalu besar. Bunga kotor hanya 3%–6% per tahun. Sementara, dengan unitlink, imbal hasil lebih fleksibel, mengikuti nilai investasi yang dipilih. Misalnya, dengan memilih ekuitas, Nelly mengasumsikan Manulife StudyLink bisa memberi imbal hasil 14% per tahun.

Seperti tabungan atau asuransi tradisional, nasabah bisa mencairkan dana di unitlink secara bertahap, sesuai kebutuhannya. Ambil contoh Manulife StudyLink tadi. Nelly bilang, dengan membayar premi Rp 5 juta per tahun sejak anak berusia 1 tahun, maka saat anak masuk TK di usia 5 tahun, ia akan mendapatkan hingga
Rp 3,7 juta, lalu dana hingga Rp 19 juta saat anak berusia 11 tahun, dan Rp 31 juta pada saat anak masuk SMA di umur 14 tahun.

Sementara, saat anak berusia 17 tahun–22 tahun atau kuliah, dana pendidikan yang diterima total sampai Rp 64 juta. Harap ingat, ya, ini hanya sebuah ilustrasi. Hasil sebenarnya sangat tergantung dengan imbal hasil riil di lapangan. Meski memiliki dua opsi produk, biasanya perusahaan asuransi lebih mengarahkan nasabah ke produk unitlink.

Ini terlihat dari simulasi yang mereka sodorkan ke nasabah. Dari simulasi asuransi pendidikan Jiwasraya, misalnya, Anda akan melihat beberapa perbedaan mencolok antara asuransi tradisional dan unitlink . Di sini, premi asuransi tradisional lebih mahal, masa pembayaran premi lebih lama, namun manfaat atau UP lebih kecil ketimbang asuransi pendidikan unitlink.

Di luar itu, ada satu hal yang mesti Anda perhatikan ketika mengambil asuransi pendidikan. Karena pembayaran premi asuransi pendidikan ini memerlukan waktu lama, Anda perlu disiplin membayar premi. "Kalau lalai membayar dalam beberapa kali periode pembayaran, dimungkinkan polis akan dinyatakan batal atau lapse dan otomatis pertanggungannya menjadi batal," ujar Adrian. Kelalaian ini bisa membuat klaim asuransi Anda ditolak.

Cermat berhitung

Perencana keuangan MoneynLove Financial Consulting Freddy Pieloor mengingatkan, jika nasabah memutuskan untuk mengambil asuransi pendidikan sebagai instrumen dana pendidikan, ada baiknya ia telah memahami benar skema produk yang ditawarkan. "Sebetulnya ada pilihan lain yang lebih baik, yaitu membeli reksadana secara langsung," ujar Freddy. Namun, bila Anda termasuk golongan orang yang tidak mau repot, Anda dapat memanfaatkan asuransi pendidikan.

Untuk tujuan pendidikan jangka waktu pendek, misal sekitar 5 tahun, Freddy menyarankan untuk menggunakan asuransi pendidikan konvensional saja. "Karena perhitungan uang pertanggungannya sudah pasti," kata dia. Sementara, untuk jangka waktu panjang, asuransi pendidikan jenis unitlink bisa jadi opsi.
Agar imbal hasil lebih maksimal.

Freddy menyarankan agar memilih asuransi pendidikan unitlink dengan pilihan instrumen investasi di saham. Memang dana yang terbentuk akan fluktuatif, tapi dalam jangka panjang, imbal hasil mungkin lebih baik. Anda sebaiknya juga membuat rancangan biaya pendidikan beserta perhitungan inflasi atau perkiraan kenaikan harga pendidikan pada saat anak Anda akan memasuki jenjang pendidikan tersebut. Dengan demikian, Anda tidak hanya tergiur dengan nilai UP yang dicantumkan dalam simulasi. Sebab, bisa jadi, angka itu sudah sangat tidak memadai ketika buah hati Anda masuk ke jenjang pendidikan mendatang.

Pastikan pula Anda memahami biaya-biaya yang harus Anda bayar selama masa pembayaran premi. Jangan sampai Anda merasa kecele lantaran tidak memperhitungkan biaya administrasi atau biaya bulanan yang ternyata dibebankan tiap kali Anda membayar premi. Masih tertarik membeli asuransi pendidikan?
(Sumber : Koran Kontan)

Sebuah Impian Tentang Koperasi


Setiap 12 Juli adalah hari yang penuh arti bagi gerakan koperasi di Indonesia. Sebab pada hari itu masyarakat koperasi Indonesia memperingati hari jadi Koperasi yang lahir pada tanggal 12 Juli 1947 di kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Tak terkecuali pada tahun 2014 ini, masyarakat gerakan koperasi Indonesia kembali memperingati hari “keramat” itu. Walau mungkin peringatannya tidak semeriah pada tahun-tahun sebelumnya karena jatuh  pada bulan puasa, tapi masyarakat gerakan koperasi akan selalu memaknai dan menandai bahwa mereka merasa punya wadah usaha yang bernama koperasi.

Wacana yang muncul ke permukaan, bahwa koperasi Indonesia masih jauh tertinggal masih terus bergulir. Padahal kalau dilihat dari usia, pada usia 69 tahun (1945-2014) semestinya kita sudah punya koperasi yang berprestasi dan besar. Dalam peta perekonomian nasional kontribusi koperasi Indonesia dalam produk domestic bruto (PDB) masih kurang dari lima persen. Sementara untuk tataran dunia, koperasi kita juga masih jauh tertinggal yang tidak bisa dicatatkan atau dimasukan ke deretan koperasi dunia.

Berdasarkan kreteria yang ditetapkan International Cooperative Alliance (ICA) untuk masuk ke koperasi dunia minimal harus punya omset dari US$ 1,25 milyar (sekitar Rp 12 trilyun) hingga US$ 70,70 milyar (sekitar Rp 67 trilyun). Sedangkan omset koperasi kita yang terbesar baru mencapai Rp 7,77 trilyun pertahun.

Dalam kondisi demikian, mungkinkah koperasi Indonesia akan menembus koperasi besar dunia? Memang kata banyak orang, hidup harus punya mimpi. Sebuah impian berfungsi untuk mewadahi tujuan kehidupan.

Juga ada kata pepatah, “Tidak Ada Kata Terlambat” mungkin pepatah itu juga bisa diterapkan dalam “menghibur” masyarakat koperasi Indonesia. Untuk menjadi besar dan masuk koperasi dunia, tentu tidak mengenal istilah terlambat.

Kita memang harus introspeksi. Buat apa kita punya Kementerian Koperasi? Buat apa kita punya UU Koperasi yang selalu diperbaiki. Buat apa kita punya organisasi gerakan Koperasi yang namanya Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Terkecuali kita lagi-lagi tejerebab dengan istilah yang terus populer “itulah Indonesia” sebuah Negara besar, tetapi sulit mencetak prestasi besar. Yang selalu hidup penuh mimpi atau hidup dalam impian. Termasuk untuk koperasi. (Dirangkum dari beberapa sumber) Dok. Sudibyo

Awas, jangan sok kaya!

Awas, jangan sok kaya!
Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Itu guyonan lama yang masih relevan hingga kini. Siapa, coba, yang tak kepingin hidup (dan mati) senikmat itu?

Menjadi kaya boleh jadi merupakan mimpi standar orang dewasa. Bayangkan tinggal di rumah berlantai marmer impor dari Italia, berendam di bath tub seharga ratusan juta perak, naik limosin Hummer keliling kota, serta mendapat pelayanan ekstra istimewa dari bank ala Malinda Dee, jelas begitu menggoda. Siapa yang berani menampik anugerah hidup seperti itu?

Sayang sekali, menjadi kaya bukan garis hidup otomatis bagi semua orang. Kebanyakan dari kita harus berjuang ekstra keras agar menjadi kaya. Namun tak semua orang bisa tekun, sabar, dan gigih mengejar mimpi menjadi kaya.

Mungkin karena itu pula, banyak orang tergoda untuk kaya secara instan€. Kalau tak menghimpun uang haram sebagai modal menumpuk harta, mereka mengandalkan utang sebagai senjata memupuk kekayaan. Bagi mereka kaya adalah harta. Semakin banyak harta yang mereka kuasai, semakin mereka merasa kaya.
Benarkah cara pandang seperti itu? Kalau Anda bertanya kepada para perencana keuangan, tentu mereka akan menjawab kompak: tidak!

Di dunia keuangan berlaku sebuah rumus ampuh: Harta = Utang + Modal. Banyak orang mengira bahwa status kaya identik dengan Harta sehingga mereka memupuk harta, apa pun caranya. Itu adalah anggapan salah. Status bukan berada di sisi Harta, melainkan pada sisi Modal.

Meski menghuni townhouse berharga miliaran dan mengendarai sedan cabriolet saban sore, Anda bukan orang kaya apabila membiayai semua itu dengan utang. Sebaliknya, Anda berhak mengklaim sebagi orang kaya walau cuma mengendarai bebek matik, selama semua harta Anda beli dengan uang sendiri.

Kesalahan mengidentifikasi status diri sendiri ini bisa berakibat fatal. Orang yang €œkaya dari utang bisa melarat tiba-tiba ketika gagal membayar angsuran. Jadi, apakah Anda termasuk golongan orang yang kaya modal atau kaya utang? (Sumber : Koran Kontan)

Rencanakan sejak dini agar sejahtera di hari tua

Rencanakan sejak dini agar sejahtera di hari tua
Usai puluhan tahun bekerja banting tulang mencari uang, seseorang yang memasuki masa pensiun tentu ingin menikmati hidupnya dengan tenang. Selain selalu menjaga hubungan baik dengan anak dan cucu, ketenangan hati juga bisa dirasakan jika tak ada kendala dalam pemenuhan kebutuhan finansial. Maklum, sumber keuangan sudah mampet.

Jika anak dan sanak keluarga masih bisa diandalkan untuk menopang hidup Anda, mungkin, masalah bisa teratasi. Namun, tentu, akan lebih membahagiakan jika Anda tetap bisa mandiri secara finansial dan tak memberatkan siapa pun, termasuk anak Anda. Kalau bisa, Anda justru memberikan kelebihan dari apa yang sudah ditanam selama masih produktif bekerja bagi anak dan cucu.

Oleh karena itu, memikirkan pendanaan pensiun sangat penting. Para perencana keuangan pun kompak bilang, semakin cepat Anda mengalokasikan dana pensiun, besaran cicilan dana pensiun semakin kecil, tapi potensi dana yang terkumpul semakin besar. “Belum lagi soal compounding return (akumulasi keuntungan) yang didapat pasti makin besar,” ujar perencana keuangan dari Fahima Advisory Fauziah Arsiyanti, yang akrab disapa Zizi.

Jadi, sebaiknya, begitu Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan, saat itu, Anda mulai merencanakan pembentukan dana pensiun. Sebagai contoh, Anda harus menyisihkan dana Rp 3,63 juta per bulan jika ingin pensiun di usia 55 tahun. Tapi, jika usia Anda sekarang masih 27 tahun, Anda cukup menyisihkan Rp 1,3 juta.
Perencana keuangan dari AFC Financial Check Up Budi Triadi Pratama menyarankan, sebaiknya seseorang juga tak bergantung pada dana pensiun yang dikelola oleh instansi atau perusahaan tempatnya bekerja. Alasannya, rata-rata dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) di instansi pemerintah maupun swasta hanya ditempatkan pada ladang investasi yang konservatif dengan return yang tidak besar.

Bisa pilih instrumen yang lebih agresif

Padahal, investasi dana pensiun bisa memakan waktu hingga puluhan tahun. “Return kecil atau tetap dari investasi yang dipilih itu, mungkin, tidak akan menutup inflasi,” tandas Budi. Karena itu, dia menyarankan agar seseorang mengalokasikan sendiri dana pensiunnya di keranjang investasi yang bersifat lebih agresif dengan potensi return lebih besar. Di sisi lain, risiko investasi menjadi hal yang tak perlu dirisaukan karena rentang investasi yang panjang mampu menjembatani risiko tersebut.

Perencana keuangan dari MoneynLove Financial Planning & Consulting Freddy Pieloor berpendapat sama. “Dana pensiun dari kantor dianggap sebagai bonus saja,” tuturnya. Saking pentingnya mengalokasikan dana pensiun pribadi, sejak dini pun, semestinya, setiap orang membentuk pola pikir bahwa alokasi dana pensiun adalah kebutuhan yang sengaja disisihkan dan bukan disisakan dari pendapatan yang diterima.

Harapannya, dana yang disisihkan tersebut bisa menjadi pos pendapatan pengganti seperti yang biasa diterima semasa bekerja. Dana ini bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagai dana kesehatan. Maklum, asuransi kesehatan kadang membatasi usia klaim, yakni rata-rata hanya sampai usia 55 tahun.

Di luar memenuhi kebutuhan sehari-hari, Budi menambahkan, dana pensiun bahkan bisa dirancang untuk pendanaan pelesir di hari tua. “Misalnya, ingin menikmati masa tua dengan keliling Eropa,” katanya.
Nilai yang mesti disisihkan untuk pembentukan dana pensiuan, menurut para perencana keuangan, sangat relatif. Banyak faktor mempengaruhinya, seperti gaji saat ini, ekspektasi penghasilan dan gaya hidup saat pensiun kelak, karakter investasi Anda, serta lama melakukan penyisihan dana.

Budi memberikan gambaran perhitungan alokasi dananya. Dengan gaji Rp 5 juta saat ini dan berkeinginan menikmati uang dengan nilai yang setara saat pensiun kelak, Anda harus menyisihkan dana Rp 1,3 juta per bulan dan diinvestasikan pada instrumen yang bisa menghasilkan return sekitar 25% per tahun. Sebab, Rp 5 juta saat ini, dengan tingkat inflasi rata-rata 12% per tahun, bakal setara Rp 119,42 juta pada 28 tahun mendatang.

Freddy berpendapat, agar aman, seseorang bisa menyisihkan uang untuk dana pensiun dengan persentase minimal dua kali inflasi saat ini. Jadi, jika inflasi year on year (yoy) Januari kemarin 3,65%, dana yang Anda harus sisihkan adalah 7,3% dari total pendapatan. Jika bermaksud mengalokasikan dana pensiun untuk diri sendiri dan pasangan, besarannya dikalikan dua lagi atau menjadi 14,6%.

Saran Zizi, sebaiknya kantong dana pensiun suami dan istri dipisahkan. Ini untuk mengantisipasi hal-hal tak baik yang mungkin terjadi, misalnya perceraian. Nah, berikut beberapa alat investasi yang bisa dimanfaatkan untuk membentuk dana pensiun Anda.

Reksadana saham

Setidaknya ada dua keuntungan yang bisa didapat dari investasi reksadana saham, yakni potensi return dari pergerakan harga saham dan kemudahan berinvestasi.
Berbeda dengan saham yang memerlukan penanganan lebih jeli, melalui reksadana, investasi Anda akan diracik oleh manajer investasi (MI). Potensi return pun cukup besar, bisa sampai 30% per tahun. Tapi, memang ada risiko nilai investasi bisa turun lantaran fluktuasi harga saham yang menjadi portofolionya.
Untuk investor berkarakter moderat, reksadana campuran bisa menjadi pilihan. Alasannya, risiko investasinya lebih kecil.

Saham

Selain menikmati kenaikan harga saham, investor bisa menikmati pembagian laba bersih perusahaan atau dividen. Namun, butuh analisis cermat agar tak salah pilih saham. Budi mengatakan, untuk memudahkan pemilihan saham, Anda bisa memilih saham-saham dengan kinerja fundamental bagus, seperti saham-saham perusahaan besar atau blue chips.

Namun, imbuh Freddy, harga saham blue chip, biasanya, mahal. Jadi, dia menyarankan agar membeli saham lapis kedua yang berpotensi memiliki pertumbuhan bagus untuk jangka panjang.
Mengenai pemilihan sektor nya, para perencana keuangan menyarankan Anda untuk melakukan diversifikasi. “Karena untuk dana pensiun, sebaiknya saham disimpan saja dan bukan untuk trading,” kata Freddy.

Obligasi

Surat utang (obligasi) jangka panjang di atas 15 tahun juga bisa menjadi pilihan. Sama seperti saham, sebaiknya, Anda menyimpan obligasi untuk jangka panjang, bahkan hingga jatuh tempo. Dari investasi obligasi, Anda bisa menikmati pembagian kupon atau bunga dan kenaikan harga. Untuk menekan risiko, para perencana keuangan lebih menyarankan Anda memilih obligasi pemerintah ketimbang korporasi.

Properti

Properti bisa menjadi sumber dana pensiun. Namun, menjual properti adalah pilihan paling akhir. Selain harganya tak murah, menjual properti juga tak gampang. Jadi, lebih baik menyewakan properti Anda untuk mendapatkan passive income.

Pemilihan jenis dan lokasi properti menjadi faktor krusial karena akan menentukan tingkat kenaikan harga dan permintaan sewa. Nah, selamat merencanakan masa tua yang sejahtera! (Sumber : Koran Kontan)